campur's Blog

I can do it…..

Oh Manusia……

Oleh : Sunaryo Adhiatmoko

Jelang Ramadhan lalu, saya dapat pesan singkat dari Kyai Abu Bakar Cholil, pengasuh Pondok Pesantren Metal, Pasuruan, Jawa Timur. Pesan itu, “Alhamdulillah, telah bertambah satu bayi lagi lahir ke muka bumi”.

Umumnya, orang senang dapat kabar kelahiran bayi. Tapi, sore itu saya tercenung. Pedih mengaduk-aduk rasa. Manusia mana lagi yang bertindak mirip binatang. Bayi itu, bukan anak kandung kyai. Tapi, makhluksuci yang “dibuang” ibu kandungnya. Sebabnya, karenaia hamil di luar nikah. Bayi yang sore itu diantar perempuan tak dikenal, menambah jumlah bocah tak berdaya yang dirawat Pondok Pesantren Metal.

Jika melihat anak-anak itu, nurani terasa runtuh. Mereka, sebagian ada yang gemuk menggemaskan. Tapi juga banyak yang kurus memprihatinkan. Jemari mungil digerak-gerakkan, mengangkat kaki, dan berusaha terkekeh. Tapi, senyumpun tampak pahit.

Tak hanya anak-anak tanpa orang tua yang diasuh di dalam pondok sederhana itu. Tapi, juga 300 lebih orang sakit jiwa. Mereka diambil dari jalanan disekitar Jawa Timur. Menurut Abu Bakar Cholil, semua manusia punya hak untuk dimanusiakan. Gila, hanya proses ujian sebagai makluk hidup. Mereka perlu dapat perlakuan manusiawi. Mendapatkan makan dan minum dan kembali ke jalan Tuhan.

Pondok Metal, dalam kelakar Abu Bakar, disebut bengkel manusia rongsokan. Manusia yang sakit jiwa, dibenahi menjadi waras. Anak-anak yang terlantar, diberi haknya untuk hidup normal. Ini, bukan kerja mudah. Tapi, sosok yang selalu ceria itu, tak pernah mengeluh. Ia menjalani semua dengan canda tawa.

Niat mulia Kyai nyentrik itu, namun tak mulus. Berbagai benturan sosial di masyarakat kerap terjadi. Terutama, tentang masa depan bayi-bayi yang mulai tumbuh jadi anak-anak. Jumlah mereka sudah lebih dari 250 anak. Bagi yang menginjak enam tahun, sudah saatnya masuk sekolah. Itu yang membuat risau Abu Bakar Cholil. Tanpa akte, anak-anak tak dapat sekolah.

“Saya sudah berusaha cari bantuan untuk dapat akte anak-anak, tapi tidak ada yang bisa”, katanya.

Untuk mendapatkan akte, memerlukan siapa orang tua anak itu. Sementara mereka lahir bak dari pecahan batu. Ditinggal orang tuanya sejak bayi merah. Dengan segala keterbatasan, Pondok Metal hanya ingin menyelamatkan bayi-bayi itu hidup. Kemudian membekalinya dengan pengetahuan, agar kelak dewasa dapat menghidupi dirinya sendiri.

“Apakah mereka akan kita biarkan di tempat sampah, dikerubungi lalat dan dimakan semut ? Saya tidak mencari siapa yang salah, tapi bayi yang sudah terlahir ini harus hidup sebagai manusia”, kali ini Abu Bakar menyentak.

Pesan pendek sore itu, mengingatkan wajah-wajah anak tak berdosa di Pondok Metal. Juga terbayang, canda Kyai Abu Bakar Cholil yang berusaha membungkus beban. Saya berkaca-kaca. Oh manusia, kemana jiwa manusiamu terselip.

Sumber : Majalah CARE
Advertisements

September 4, 2009 - Posted by | Agama

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: